Pertemuan dengan Dubes RI, – Berlin, 16 Juni 2007
Tiba di Berlin Hbf pukul 12.41, karena perut lapar jadi cari makan dulu, Kebap dan Udang. ½ jam makan, lalu jalan kaki dari Hbf menuju KBRI yang kebetulan tidak begitu jauh letaknya. Tiba di KBRI pukul 13.30, dilanjutkan dengan sholat Dhuhur dan Ashar. Setelah sholat menuju ruang Atdikbud di lantai 4 dan ketemu dengan mahasiswa S2 yang lainnya. Pukul 14.45 ngobrol bersama ke-12 mahasiswa (5 dari Tettnang, 2 dari Duisburg, 5 dari Dieburg) dan pak rubi (staff Atdikbud Berlin). Dibicarakan kabar dari masing-masing daerah dan permasalahan pelik yang menimpa masing2 dan diskusi menarik “apa yang terjadi selama 3 bulan menunggu rapelan?” J. Wah beragam ternyata jawabannya. Yup, hidup di luar negeri, hanya dengan mengandalkan beasiswa, benar2 harus diperhitungkan pengeluarannya. Terlebih memang kalau uang beasiswa itu dikeluarkan secara rapelan, wow….benar2 hemat kali…, btw, cerita dari Tettnang, harus menunda beberapa pembayaran rutin bulanan, seperti asuransi, rumah, dll. Sementara, dari Duirsburg, dapat kemudahan dari Professor yang ada di kampus mereka, dan dari Dieburg yang kuliah di Darmstadt, memperoleh pinjaman dari ITS, manajemen kampus asal mereka. Dalam kesempatan itu, hadir juga ibu Lienda, Kepala Atdikbud yang saat ini masih dalam proses pergantian. Beliau hadir dan beramah tamah dengan kami. Catatan bagi beliau, kelihatannya beliau tidak “menguasai“ program beasiswa ini.
Habis ngobrol santai, kemudian diajak keliling menggunakan mobil mengunjungi obyek wisata yang ada di Berlin, diantaranya Tembok Berlin, Check Point Charlie, Brandenburger Tor. Karena waktu, jadi gak bisa semua dikunjungi.
Pukul 17.50 kami kembali ke KBRI untuk acara selanjutnya. Pukul 18.10 acara ramah-tamah dengan pak Dubes, Bpk. Makmur Widodo. Hadir dalam acara ini, Bapak Dubes, Makmur Widodo, Wakilnya bapak Fauzi Wajid, bapak Agus Rubiyanto (Atdikbud), Ibu Wahyu (Atdikbud), bapak Berlin Sumbayat (Atdikbud), Ibu Birgit Steffan (Atdikbud).
Begitu hadir dalam ruang pertemuan, pak Dubes menyalami kami semua. Beliau keliling sementara kami berdiri di dekat kursi kami masing-masing. Ternyata suka humor juga ta pak Dubes. Ya begitu memulai pembicaraan diawali dengan humor reformasi. “katanya reformasi bla….bla….bla…”. Diawali dengan perkenalan beliau, dan tujuan dari pertemuan ini bahwa beliau sangat ingin tahu sekali apa itu beasiswa unggulan, soalnya beliau sendiri belum mengetahui seluk beluk program beasiswa ini. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing Mahasiswa. (5 orang dari BA Malang, 5 orang dari ITS Surabaya, 2 orang dari UI Depok – 1 orang dari UI Depok tidak ikut ke Berlin, karena sedang hamil)
Ternyata pak Dubes itu sukanya motong pembicaraan orang. Hal ini diakui beliau sendiri “ saya ini sukanya motong bicaranya orang”. Terlihat juga saat perkenalan, pasti dipotong dan dikomentari.
Kalau bisa mendapat jatah 200 kenapa cuma harus dapat 50. Berbicara tentang quota beasiswa beliau mendambakan semakin banyak jumlah mahasiswa Indonesia yang bisa belajar di Jerman melalui program beasiswa, salah satunya DAAD. Jika dilihat perbandingan jumlah penduduk dan jumlah quota seharusnya berimbang donk…beliau membandingkannya dengan India bahwa di Jerman ini banyak orang India, sementara orang Indonesia masih sedikit.
Beliau pernah mengunjungi Siemens Academy di Berlin, dan tertarik untuk menindaklanjutinya dalam bentuk beasiswa. Ketertarikan beliau terlebih pada bidang Mekatronika. Sektor Industri Strategis harus dimajukan untuk bisa mendukung tercapainya kamajuan di Indonesia. Padahal mekatonika menjadi salah satu inti kemajuan dalam bidang Industri.
Iman: Upaya memakmurkan masyarakat sekitar perindustrian, agar terjadi kerjasama yang baik antara Industri dan masyarakat. Filosofi pak Dubes, Panggilan untuk Rakyat itu tidak pas, tapi Warga negara, yang senantiasa di hormati hak2 nya.
Pertemuan kali ini ternyata beliau jadikan event untuk ngumpulin informasi, bahan untuk dibawa dan didiskusikan dengan pihak IGI (Indonesian German Institute). Beliau ada acara pada hari Senin nya, membahas tentang kerja sama dengan IGI. Beliau menyambut positif program beasiswa unggulan ini dan akan memperjuangkannya.
Diakhir pembicaraan, beliau meminta maaf tentang keterlambatan pencairan dana beasiswa. Ternyata beliau tidak mengetahui apa ini program beasiswa unggulan, Beliau kaget, ketika diminta tanda tangan pencairan dana. Beliau juga menjelaskan bahwa sistem di KBRI Berlin ini mengalami reformasi. Bahwa keuangan atas persetujuan dengan Wakil Dubes, dan Bendahara. Pada intinya, beliau memandang bahwa tanggung jawab untuk mencairkan dana itu ada pada beliau sementara beliau belum jelas tentang asal muasal program beasiswa unggulan ini.
Dalam ramah tamah ini, kami makan snack kacang atom pedas dan minum air mineral. Makan malamnya berupa makanan Libanon, daging kambing, ayam dan ikan lengkap dengan lalapannya. Wow…kayak makanan indonesia nih… Tepat pukul 21.00 kami berangkat menuju ke Wisma 2 diantar pakai mobil, 45 menit perjalanan dari KBRI. Di tengah perjalanan, mampir di Kurfürstendamm = Malioboronya Jerman. Dulunya tempat ngumpulnya orang Jerman Barat. Di sana ada Gedachnis Kirchee, gereja yang pernah dibom sekutu ketika perang dunia II. Pemerintah jerman tidak merenovasi seluruhnya gereja, jadi masih kelihatan bagian yang kena bom.
Bermalam di wisma 2, dapat kamar di lantai 3 dekat atap. Ada kaca menghadap ke atas, jadi bisa melihat bintang dan bulan. Tapi, saya melihatnya dalam mimpi, soalnya habis magrib dan isya, langsung tidur…zzZZ….zzzz…ZZzzz.
Pagi hari sarapan pagi bersama. Makan roti bakar dan minum teh hangat. Lagi-lagi pak Agus cerita tentang pengalaman beliau mulai dari masa mahasiswa sampai jadi pejabat Atdikbud. Bagus juga prinsip beliau. “Jangan pernah merepotkan orang lain“.
Sehabis sarapan kita di antar sampai Hbf untuk pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa kami berphoto bersama di depan wisma 2.



hiiii birgit steffan,
saya ruswaldi,pernah ke jerman bulan juli thn 2001.Waktu itu saya diunundang atdikbud KBRI jerman u comparative study di beberapa kota di jerman.
banyak yg berkesan selam disana,terutama melihat program sports injury rehabilitation di leipzig dan di tubingen serta stutgart.
Kapan sy diundang lagi kejerman?hehehe/
saya skrg bekerja di pekanbaru sebagai kepala instalasi medical rehabilitation di kota PEKANBARU.
Di perkanbaru saya pernah bertemu pak budi(mantan atase dikbud) di berlin thn 2001 itu.
apa kbr birgit skrg?semoga birgit tetap dlm keadaan sehat dan bahagia ya.
Untuk pak dwi miyanto,saya berterima kasih karena dgn adanya blog ini,bisa terjalin lagi dgn teman2 di jerman yg sdh lama terputus.
Kalau teman2 ke pekanbaru,mampirlah ke tempat saya,dan saya dengan senang hati bersedia jadi guide yg baik,hehehe.
NO mobile phone saya :081371860609.
selamat bekerja dan belajar di jerman u teman2 yg dapat beasisiwa.
salam,